Visceral Leishmaniasis (Kala Azar)
Kala azar adalah penyakit yang terutama menjangkiti orang – orang
yang termiskin diantara kaum miskin. Penyakit ini disebabkan oleh
parasit protozoa Leishmania donovani dan ditularkan ke manusia oleh
lalat pasir (sandfly), Phlebotomus argentipes, yang terinfeksi. Penyakit
ini menurunkan daya tahan tubuh, mengakibatkan demam berkelanjutan,
anemia, pembengkakan hati dan limpa, dan jika tidak diobati, akan
menimbulkan kematian. Penyakit ini merupakan salah satu penyebab dari
buruknya pembangunan suatu daerah dan menekankan beban yang berlebihan
dari system kesehatan.
Analisa Situasi dan Berbagai Hambatan
Di wilayah Asia Tenggara, penyakit ini masih terbatas pada 94 distrik penularan di tiga Negara (Bangladesh, India dan Nepal) dengan sekitar 147 juta penduduk berisiko tertular kala azar. Diperkiraan bahwa 100.000 kasus baru muncul di wilayah ini setiap tahun. Hampir 2,4 juta disability adjusted life years (DALYs) hilang tiap tahun akibat kala azar diseluruh dunia. Wilayah Asia Tenggara adalah tempat terjadinya kehilangan 400.00 DALYS. Selama tahun 2005, kasus – kasus yang dilaporkan di Bangladesh, India and Nepal masing – masing mencapai 6891, 28.751 dan 1564 kasus. Persentase kematian yang ditimbulkan di Bangladesh, India and Nepal in 2005 adalah masing – masing 0,28 %, 0,54% and 1,34%.
Terdapat kesenjangan yang besar antara kasus yang diperkiraan dan kasus yang dilaporkan. Pengobatan kala azar terhambat oleh harga obat – obatan yang tinggi dan arena waktu bekerjanya obat miltefosine adalah 28 hari maka kecuali pasien sangat taat untuk meminumnya terdapat risiko bahwa akan timbul resistensi terhadap obat ini. Terdapat risiko penularan berkelanjutan melalui Post – kala – azar Dermal Leismaniasis (PKDL), terutama jika jumlah penderita dengan PKDL bertambah banyak. Pengendalian PKDL termasuk sulit karena para penderita dengan PKDL tidak menunjukkan gejala atau rasa sakit, hal mana dapat menyebabkan mereka menunda untuk segera mencari pengobatan.
Faktor – fakor yang Membantu Pembasmian Kala azar
Terdapat komitmen politik yang tinggi pada ketiga negara yang terkena dan dana telah dialokasikan untuk pembasmian penyakit ini. Infastuktur kesehatan telah tersedia untuk melaksanakan program ini. Manusia merupakan satu – satunya penampung dari kala azar and Phlebotomus argentipes adalah satu – satunya vector yang bertanggung jawab atas penularan penyakit ini dikawasan Asia Tenggara. Kasus kala azar yang tidak diobati adalah satu – satunya sumber penularan bagi vector.
Sebagai kelanjutan dari rekomendasi Menteri Kesehatan Bangladesh, India dan Nepal pada pertemuan yang diselenggarakan di Kathmandu, Nepal, tahun 2000, sebuah konsep rencana strategis regional telah dikembangkan oleh Kantor Regional WHO untuk Asia Tenggara. Rencana strategic regional telah disetujui oleh negara anggota pada pertemuan antar – Negara di Varanasi, India, bulan Nopember 2003. Setelah dilakukan revisi yang perlu, rencana strategis telah dibahas dan disepakati pada pertemuan pertama dari kelompok Penasehat Teknis Regional (RTAG) yang diselenggarakan di Manesar, Gurgaon, India pada Desember 2004.
1) Diagnosa dini dan Perawatan lengkap ; 2) Pengelolaan Vektor Terpadu ; 3) Pengawasan Penyakit yang Efektif ; 4) Mobilisasi Sosial dan kemitraan ; 5) Penelitian Klinis dan Operasional.
Rencana Mendatang
Mengembangkan Pedoman Teknis, standar kualitas obat – obatan dan perlengkapan laboratorium, pedoman mengenai pemantauan kualitas obat – obatan, keefektifan obat – obatan dan resistensi obat dan alat diagnostic. Negara anggota akan dibantu melalui pelatihan staf untuk melakukan pemetaan geografis di distrik yang terkena, pengelolaan dan pelaksanaan program local (distrik dan sub – distrik) oleh NPO / Koordinator Negara / Koordinator Distrik (Konsultan) dsb tergantung kebutuhan masing – masing Negara dan sumber daya yang tersedia. Dengan pusat kolaborasi dan lembaga riset TDR dan WHO, WHO akan menentukan prioritas penelitian dan membantu dalam pengembangan ptotocol riset. WHO akan membantu mengembangkan kemampuan penelitian di Negara – negara.
Kemitraan antara WHO, lembaga – lembaga riset di Wilayah ini dan industri farmasi telah membantu dalam pembuatan alat baru untuk diagnosa dini (‘rk39’) dan (Miltefosine) yang aman dan paromomycin yang dapat diinjeksi. WHO telah memberikan dukungannya untuk membangun komitmen politik yang menghasilkan penanda tanganan MOU guna meningkatkan kerjasama antara negara – negara endemic dan telah melanjutkan melibatkan pimpinan politik demi kelanjutan komitmen politik. WHO telah mendirikan Kelompok Penasehat Teknis Regional (RTAG) untuk memberikan bimbingan teknis terhadap pemberantasan kala azar. WHO menyiapkan rencana strategis regional dan membantu negara – negara dalam penyusunan rencana tersebut untuk pelaksanaan dan menuangkan rencana tersebut kedalam dokumen – dokumen proyek.(WHO/Dv/Idh)
Analisa Situasi dan Berbagai Hambatan
Di wilayah Asia Tenggara, penyakit ini masih terbatas pada 94 distrik penularan di tiga Negara (Bangladesh, India dan Nepal) dengan sekitar 147 juta penduduk berisiko tertular kala azar. Diperkiraan bahwa 100.000 kasus baru muncul di wilayah ini setiap tahun. Hampir 2,4 juta disability adjusted life years (DALYs) hilang tiap tahun akibat kala azar diseluruh dunia. Wilayah Asia Tenggara adalah tempat terjadinya kehilangan 400.00 DALYS. Selama tahun 2005, kasus – kasus yang dilaporkan di Bangladesh, India and Nepal masing – masing mencapai 6891, 28.751 dan 1564 kasus. Persentase kematian yang ditimbulkan di Bangladesh, India and Nepal in 2005 adalah masing – masing 0,28 %, 0,54% and 1,34%.
Terdapat kesenjangan yang besar antara kasus yang diperkiraan dan kasus yang dilaporkan. Pengobatan kala azar terhambat oleh harga obat – obatan yang tinggi dan arena waktu bekerjanya obat miltefosine adalah 28 hari maka kecuali pasien sangat taat untuk meminumnya terdapat risiko bahwa akan timbul resistensi terhadap obat ini. Terdapat risiko penularan berkelanjutan melalui Post – kala – azar Dermal Leismaniasis (PKDL), terutama jika jumlah penderita dengan PKDL bertambah banyak. Pengendalian PKDL termasuk sulit karena para penderita dengan PKDL tidak menunjukkan gejala atau rasa sakit, hal mana dapat menyebabkan mereka menunda untuk segera mencari pengobatan.
Faktor – fakor yang Membantu Pembasmian Kala azar
Terdapat komitmen politik yang tinggi pada ketiga negara yang terkena dan dana telah dialokasikan untuk pembasmian penyakit ini. Infastuktur kesehatan telah tersedia untuk melaksanakan program ini. Manusia merupakan satu – satunya penampung dari kala azar and Phlebotomus argentipes adalah satu – satunya vector yang bertanggung jawab atas penularan penyakit ini dikawasan Asia Tenggara. Kasus kala azar yang tidak diobati adalah satu – satunya sumber penularan bagi vector.
Vektor – vector ini peka terhadap insektisida yang ada seperti DDT
dan pyrethroida. Oleh sebab itu penyebaran penyakit dapat diputus.
Teknologi baru semacam system informasi geografis (GIS) dapat digunakan
untuk mengkonsentrasikan penyemprotan dengan insektisida. Penyakit ini
terbatas pada daerah geografis di ketiga Negara yang endemic –
Bangladesh, India dan Nepal ; oleh karena itu upaya terpadu kemungkinan
besar akan berhasil. Penyakit ini mudah didiaignosa dengan ‘rk39’ dan
pengobatannya aman dan efektif dengan obat oral, miltofosine, sebagai
obat lini pertama.
Pemberantasan Kala azar : Kemajuan Hingga KiniSebagai kelanjutan dari rekomendasi Menteri Kesehatan Bangladesh, India dan Nepal pada pertemuan yang diselenggarakan di Kathmandu, Nepal, tahun 2000, sebuah konsep rencana strategis regional telah dikembangkan oleh Kantor Regional WHO untuk Asia Tenggara. Rencana strategic regional telah disetujui oleh negara anggota pada pertemuan antar – Negara di Varanasi, India, bulan Nopember 2003. Setelah dilakukan revisi yang perlu, rencana strategis telah dibahas dan disepakati pada pertemuan pertama dari kelompok Penasehat Teknis Regional (RTAG) yang diselenggarakan di Manesar, Gurgaon, India pada Desember 2004.
Rencana Strategis Regional kemudian disetujui pada pertemuan antara
para mitra yang diadakan di Benhor (India) pada bulan August 2005.
Bangladesh, India dan Nepal sepakat untuk menggabungkan upaya mereka
untuk membasmi kala azar paling lambat tahun 2015. Sebuah memorandum
kesepahaman (MOU) ditanda tangani oleh ketiga Negara tersebut pada bulan
Mei 2005. Menyusul persetujuan atas Rencana Strategis Regional, manajer
program dari Bangladesh, India dan Nepal menyiapkan rencana operasi
nasional untuk implementasi yang dituangkan kedalam suatu dokumen
proyek. Rencana ini meliputi pedoman implementasi dan telah
mengidentifikan sumber daya yang diperlukan.
Strategi Regional adalah :1) Diagnosa dini dan Perawatan lengkap ; 2) Pengelolaan Vektor Terpadu ; 3) Pengawasan Penyakit yang Efektif ; 4) Mobilisasi Sosial dan kemitraan ; 5) Penelitian Klinis dan Operasional.
Rencana Mendatang
Mengembangkan Pedoman Teknis, standar kualitas obat – obatan dan perlengkapan laboratorium, pedoman mengenai pemantauan kualitas obat – obatan, keefektifan obat – obatan dan resistensi obat dan alat diagnostic. Negara anggota akan dibantu melalui pelatihan staf untuk melakukan pemetaan geografis di distrik yang terkena, pengelolaan dan pelaksanaan program local (distrik dan sub – distrik) oleh NPO / Koordinator Negara / Koordinator Distrik (Konsultan) dsb tergantung kebutuhan masing – masing Negara dan sumber daya yang tersedia. Dengan pusat kolaborasi dan lembaga riset TDR dan WHO, WHO akan menentukan prioritas penelitian dan membantu dalam pengembangan ptotocol riset. WHO akan membantu mengembangkan kemampuan penelitian di Negara – negara.
Jaringan penelitian melalui mekanisme riset multisentrik and
koordinasi riset akan difasilitasi. WHO akan membantu diadakannya
Pertemuan Satuan Tugas antar – negara, pertemuan lintas – batas dan
koordinasi dengan para mitra (forum mitra / aliansi regional) guna
memobilisasi sumber daya tambahan yang diperlukan untuk mendukung
pemberantasan kala azar. WHO juga akan memfasilitasi tinjauan dan
evaluasi berkala atas program regional bagi pemberantasan kala azar.
Pengembangan kemitraan dengan beberapa organisasi Bank Dunia, UNICEF,
ADB, DFID, GTZ, JICA, USAID dan Yayasan Bill dan Melinda Gates dan lain –
lain dalam mempertimbangkan bantuan bagi pemberantasan kala azar dan
TDR guna mendorong penelitian dasar dan implementasi mengenai obat –
obatan dan diagnostika.
Peran WHO dalam pemberantasan Kala Azar Kemitraan antara WHO, lembaga – lembaga riset di Wilayah ini dan industri farmasi telah membantu dalam pembuatan alat baru untuk diagnosa dini (‘rk39’) dan (Miltefosine) yang aman dan paromomycin yang dapat diinjeksi. WHO telah memberikan dukungannya untuk membangun komitmen politik yang menghasilkan penanda tanganan MOU guna meningkatkan kerjasama antara negara – negara endemic dan telah melanjutkan melibatkan pimpinan politik demi kelanjutan komitmen politik. WHO telah mendirikan Kelompok Penasehat Teknis Regional (RTAG) untuk memberikan bimbingan teknis terhadap pemberantasan kala azar. WHO menyiapkan rencana strategis regional dan membantu negara – negara dalam penyusunan rencana tersebut untuk pelaksanaan dan menuangkan rencana tersebut kedalam dokumen – dokumen proyek.(WHO/Dv/Idh)
Komentar
Posting Komentar